MIU Login

Doktor MPI Pascasarjana UIN Malang : Ahmad Mubarok, Kembangkan Q-TISS Model untuk Penguatan Manajemen Kurikulum Integratif Sekolah Berbasis Pesantren Tahfidz Al-Qur’an

Batu — Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menghasilkan inovasi akademik yang memperkaya khazanah keilmuan Manajemen Pendidikan Islam melalui lahirnya model baru dalam pengembangan manajemen kurikulum pendidikan Islam.

Dalam Ujian Promosi Doktor yang diselenggarakan di Gedung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Ahmad Mubarok, dosen Institut Agama Islam (IAI) Sunan Kalijogo Malang, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Manajemen Kurikulum Integratif Sekolah Berbasis Pesantren Tahfidz Al-Qur’an (Studi Multikasus di SMA Unggulan Harapan Ummat Mojokerto dan MA IT Darul Fikri Sidoarjo).” Penelitian tersebut menghasilkan Q-TISS Model (Quranic Tahfidz Integrated System School–Pesantren) sebagai model manajemen kurikulum integratif yang menggabungkan sistem sekolah formal dengan sistem kepesantrenan berbasis Tahfidz Al-Qur’an.

Menjawab Dinamika Pengembangan Sekolah Berbasis Pesantren

Perkembangan lembaga pendidikan Islam di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan transformasi yang sangat signifikan. Banyak sekolah berbasis pesantren telah mengembangkan berbagai kurikulum secara bersamaan, mulai dari Kurikulum Nasional, kurikulum kepesantrenan, kurikulum Tahfidz Al-Qur’an, penguatan bahasa asing, hingga kurikulum internasional seperti Cambridge maupun Al-Azhar Cairo. Seluruh inovasi tersebut bertujuan melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, religius, berkarakter, dan mampu bersaing di tingkat global.

Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pada banyak lembaga, berbagai kurikulum tersebut masih berjalan sendiri-sendiri sesuai kebutuhan masing-masing program. Program Tahfidz Al-Qur’an yang seharusnya menjadi identitas utama sekolah berbasis pesantren sering kali masih diposisikan sebagai program pendamping, sehingga belum menjadi fondasi utama dalam pengelolaan kurikulum secara kelembagaan.

Menurut Ahmad Mubarok, tantangan utama sekolah berbasis pesantren saat ini bukan sekadar mengintegrasikan pembelajaran di dalam kelas, tetapi membangun manajemen kurikulum integratif pada level kelembagaan yang mampu menyinergikan seluruh kurikulum dalam satu sistem pendidikan sesuai karakteristik dan visi masing-masing pesantren.

Melahirkan Tiga Model Konseptual

Melalui penelitian multisitus di SMA Unggulan Harapan Ummat Mojokerto dan MA IT Darul Fikri Sidoarjo, penelitian ini menghasilkan tiga temuan konseptual yang saling melengkapi.

Temuan pertama adalah QURANIC (Quality Unified Regulation and Academic-Nurturing Integrated Curriculum) yang menjelaskan bahwa integrasi kurikulum dibangun melalui penyatuan visi Qur’ani, perencanaan kolaboratif, pengorganisasian terpadu, implementasi kurikulum integratif, monitoring berkelanjutan, dan evaluasi akademik-spiritual secara sistematis.

Temuan kedua adalah INTEGRATE (Integrated Networking, Theology, Education Governance, Reinforcement, and Tahfidz Education System) yang menegaskan bahwa keberhasilan integrasi sekolah dan pesantren ditentukan oleh sinergi jejaring kelembagaan, fondasi teologis, tata kelola pendidikan, budaya Qur’ani, serta sistem pendidikan Tahfidz yang terintegrasi dalam seluruh aktivitas pendidikan.

Temuan ketiga adalah TAHFIDZ (Transformative Academic, Holistic, Faith, Integrity, Discipline, and Zikir-Oriented Development) yang menunjukkan bahwa implementasi kurikulum integratif mampu membentuk peserta didik yang memiliki karakter Qur’ani, prestasi akademik, kedisiplinan, integritas, kematangan spiritual, kemampuan sosial, dan jiwa kepemimpinan.

Q-TISS Model sebagai Novelty Penelitian

Sintesis lintas kasus kemudian menghasilkan Q-TISS Model (Quranic Tahfidz Integrated System School–Pesantren) sebagai temuan formal penelitian.

Model ini mengintegrasikan lima dimensi utama, yaitu integrasi nilai-nilai Qur’ani, integrasi sistem sekolah dan pesantren, penguatan budaya Tahfidz, pembelajaran holistik integratif, serta transformasi spiritual dan akademik peserta didik.

Melalui model tersebut, Tahfidz Al-Qur’an tidak lagi diposisikan sebagai program tambahan, tetapi menjadi core curriculum yang menjadi dasar penyusunan kebijakan, budaya organisasi, tata kelola lembaga, proses pembelajaran, hingga pengembangan karakter peserta didik. Dengan demikian, seluruh kurikulum berjalan secara sinergis dalam satu sistem pendidikan Islam yang utuh, adaptif, dan berkelanjutan.

Perspektif Manajemen Pendidikan Islam

Secara filosofis, penelitian ini memperkuat paradigma bahwa Al-Qur’an tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi menjadi landasan dalam seluruh proses manajemen pendidikan. Kurikulum dipandang sebagai instrumen pembentukan insan kamil yang mengintegrasikan dimensi keilmuan, spiritualitas, akhlak, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.

Paradigma tersebut selaras dengan firman Allah SWT:

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).

Ayat tersebut menegaskan pentingnya integrasi sebagai prinsip dasar dalam membangun sistem pendidikan Islam yang menyatukan visi, tujuan, proses, dan budaya kelembagaan.

Kontribusi bagi Pengembangan Body of Knowledge MPI

Ketua Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., menyampaikan bahwa penelitian doktoral di lingkungan S3 MPI diarahkan tidak hanya menghasilkan deskripsi fenomena pendidikan, tetapi juga melahirkan model, proposisi, dan inovasi konseptual yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu Manajemen Pendidikan Islam.

Menurut beliau, Q-TISS Model memperluas paradigma Quranic Transformational Curriculum Management, yaitu pengelolaan kurikulum yang menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi seluruh sistem pendidikan. Model ini diharapkan menjadi referensi bagi sekolah Islam terpadu, madrasah, dan pesantren dalam mengembangkan manajemen kurikulum yang integratif, holistik, kontekstual, dan berkelanjutan, sekaligus memperkaya Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam dalam menjawab tantangan pendidikan Islam di era global.

Dalam disertasinya, Ahmad Mubarok mengangkat tema mengenai manajemen kurikulum integratif pada sekolah berbasis pesantren tahfidz Al-Qur’an. Penelitian ini berfokus pada bagaimana lembaga pendidikan mampu mengintegrasikan kurikulum nasional dengan kurikulum kepesantrenan, khususnya program tahfidz Al-Qur’an, sehingga menghasilkan sistem pembelajaran yang utuh, seimbang, dan berorientasi pada pembentukan karakter serta prestasi akademik peserta didik.

Melalui studi multikasus di SMA Unggulan Harapan Ummat Mojokerto dan MA IT Darul Fikri Sidoarjo, penelitian ini mengkaji berbagai aspek pengelolaan kurikulum, mulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi kurikulum yang diterapkan pada kedua lembaga tersebut. Pendekatan ini memberikan gambaran mengenai praktik terbaik (best practices) dalam mengelola pendidikan berbasis pesantren yang tetap relevan dengan perkembangan pendidikan nasional.

Disertasi ini menegaskan bahwa keberhasilan sekolah berbasis pesantren tahfidz tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan materi akademik dan keagamaan, tetapi juga oleh efektivitas manajemen kurikulum yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Sinergi antara pimpinan sekolah, guru, pengasuh pesantren, orang tua, serta peserta didik menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas dan berkelanjutan.

Selain memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan, model kurikulum integratif yang dikaji dalam penelitian ini juga diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki hafalan Al-Qur’an, karakter Islami, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi tantangan pendidikan dan dunia kerja pada masa mendatang. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi sekolah Islam, madrasah, maupun pesantren dalam mengembangkan sistem manajemen kurikulum yang mampu mengintegrasikan pendidikan umum dan pendidikan keagamaan secara harmonis. Temuan tersebut juga diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia, khususnya dalam memperkuat model sekolah berbasis pesantren tahfidz Al-Qur’an.

Melalui ujian promosi doktor ini, Ahmad Mubarok berhasil menunjukkan kontribusi akademiknya dalam pengembangan manajemen pendidikan Islam. Disertasinya menjadi salah satu referensi penting dalam membangun model kurikulum integratif yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan generasi Qurani yang berkarakter, unggul, dan mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.

Keberhasilan Ahmad Mubarok meraih gelar doktor menambah deretan lulusan Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan Islam, baik pada tataran akademik maupun implementasi di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia.

Berita Terkait