
Malang, 26 Juni 2026 – Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali melahirkan kontribusi ilmiah bagi pengembangan Manajemen Pendidikan Islam melalui Ujian Promosi Doktor, Dr. Mohamad Kamil Salas. Dalam sidang yang diselenggarakan di Gedung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, promovendus berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Kepemimpinan Kiai dalam Membangun Jiwa Entrepreneurship Santri di Pesantren Rakyat (Studi Kasus di Pesantren Rakyat Al-Amin Sumberpucung Malang).”
Menjawab Tantangan Pendidikan Islam Kontemporer
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tantangan pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan sosial, perkembangan ekonomi, bonus demografi, serta meningkatnya kebutuhan akan lulusan yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki kemampuan hidup mandiri, produktif, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan.
Selama ini, kajian mengenai kewirausahaan pesantren lebih banyak berfokus pada pengembangan unit usaha atau aspek bisnis lembaga. Sementara itu, penelitian mengenai bagaimana kepemimpinan kiai membentuk jiwa entrepreneurship santri melalui proses pendidikan, keteladanan, pembiasaan, pemberdayaan, dan budaya pesantren masih relatif terbatas. Celah inilah yang menjadi dasar lahirnya penelitian ini.
Pesantren Rakyat sebagai Model Pendidikan Berbasis Pemberdayaan
Penelitian ini menunjukkan bahwa Pesantren Rakyat tidak sekadar dipahami sebagai pesantren yang memberikan layanan pendidikan dengan biaya ringan atau gratis. Lebih jauh, pesantren rakyat merupakan model pendidikan Islam yang mengintegrasikan fungsi pendidikan, dakwah, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, dan penguatan masyarakat dalam satu ekosistem pendidikan.
Di lingkungan pesantren, aktivitas ekonomi diposisikan sebagai media pendidikan karakter, bukan semata-mata orientasi memperoleh keuntungan. Santri dibina melalui pengalaman langsung sehingga nilai kerja keras, amanah, disiplin, tanggung jawab, kreativitas, dan kepedulian sosial tumbuh sebagai bagian dari proses pendidikan.
Kepemimpinan Kiai sebagai Penggerak Pembentukan Karakter Entrepreneur
Salah satu temuan utama penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembentukan jiwa entrepreneurship tidak hanya ditentukan oleh keberadaan unit usaha pesantren, tetapi sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan kiai.
Berdasarkan dialog antara teori kepemimpinan dengan realitas lapangan, penelitian ini menemukan bahwa kepemimpinan kiai bekerja melalui fungsi-fungsi kepemimpinan yang khas, yaitu sebagai visioner, role model, motivator, mentor, dan pemberdaya (empowering leader). Melalui fungsi-fungsi tersebut, kiai membangun budaya kewirausahaan yang diinternalisasikan melalui keteladanan, pembiasaan, pendampingan, pemberian kepercayaan, dan pengalaman belajar langsung (learning by doing).
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jiwa entrepreneurship santri tidak dibuktikan hanya melalui keterlibatan dalam unit usaha, tetapi tampak pada tumbuhnya inisiatif, kreativitas, keberanian mengambil keputusan, tanggung jawab, kemandirian, kemampuan melihat peluang, serta komitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lahirnya Model Kepemimpinan Holistik-Transformatif (KHT)
Sintesis antara teori dan temuan empiris melahirkan Model Kepemimpinan Holistik-Transformatif (KHT) sebagai pengembangan konseptual dalam bidang Manajemen Pendidikan Islam.
Model KHT terdiri atas lima dimensi yang saling terintegrasi, yaitu:
- Spiritual Integrative Values, yaitu kepemimpinan yang berlandaskan nilai tauhid, amanah, ihsan, dan keteladanan.
- Participatory Entrepreneurial Empowerment, yaitu pemberdayaan santri melalui keterlibatan aktif dalam aktivitas produktif disertai pendampingan.
- Adaptive Entrepreneurial Character, yaitu pembentukan karakter entrepreneur yang kreatif, adaptif, disiplin, bertanggung jawab, dan mandiri.
- Economic Sustainability, yaitu penguatan kemandirian ekonomi pesantren melalui pengelolaan unit usaha sebagai media pendidikan.
- Transformative Leadership, yaitu kemampuan kepemimpinan mengubah keterbatasan menjadi peluang bagi pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Model ini tidak dimaksudkan menggantikan teori kepemimpinan transformasional yang telah ada, melainkan memperkaya teori tersebut dalam konteks kepemimpinan kiai di pesantren. Kontribusi utamanya terletak pada integrasi nilai-nilai spiritual Islam, budaya pesantren, dan pemberdayaan kewirausahaan ke dalam praktik kepemimpinan pendidikan.
Perspektif Islam: Membangun Kemandirian Umat
Secara filosofis, Model Kepemimpinan Holistik-Transformatif berpijak pada paradigma Islam tentang istiqlal al-ummah (kemandirian umat). Pendidikan Islam tidak hanya bertujuan membentuk pribadi yang saleh secara individual, tetapi juga melahirkan generasi yang mampu membangun kekuatan ekonomi, sosial, dan peradaban sebagai wujud pelaksanaan fungsi manusia sebagai khalifah fil ardh.
Dalam perspektif Maqashid al-Syari’ah, model ini memiliki relevansi yang kuat dengan tujuan-tujuan pokok syariat. Pada dimensi Hifz al-Din, kewirausahaan diarahkan menjadi bagian dari ibadah sehingga seluruh aktivitas ekonomi dijalankan berdasarkan prinsip halal, amanah, dan keberkahan.
Pada dimensi Hifz al-Mal, pendidikan kewirausahaan menjadi instrumen menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan harta secara bertanggung jawab untuk kemaslahatan bersama. Pada dimensi Hifz al-Nasl, model ini mempersiapkan generasi yang mandiri sehingga mampu membangun keluarga yang kuat secara ekonomi, moral, dan spiritual. Prinsip tersebut selaras dengan firman Allah SWT:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya…” (QS. An-Nisa’ [4]: 9).
Ayat tersebut mengandung pesan bahwa kelemahan generasi tidak hanya bermakna kelemahan fisik, tetapi juga kelemahan ekonomi, pendidikan, moral, dan agama. Oleh karena itu, membangun jiwa entrepreneurship santri merupakan bagian dari ikhtiar menciptakan generasi yang kuat dan berdaya.
Pada dimensi Hifz al-‘Aql, pembelajaran kewirausahaan melatih santri berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan adaptif dalam menghadapi perubahan. Sedangkan pada dimensi Hifz al-Nafs, kemandirian ekonomi menjadi salah satu instrumen penting dalam mengurangi kemiskinan, ketergantungan, serta berbagai persoalan sosial yang mengancam kualitas kehidupan masyarakat.
Kemandirian Ekonomi sebagai Penguat Keimanan
Penelitian ini juga memperoleh legitimasi normatif dari pesan Rasulullah SAW yang populer di kalangan ulama:
كاد الفقر أن يكون كفرًا
“Hampir saja kefakiran membawa seseorang kepada kekufuran.”
Meskipun kualitas sanad hadis tersebut diperselisihkan, substansi maknanya sejalan dengan banyak ajaran Islam yang menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi agar umat mampu menjaga agama, martabat, dan kehormatan hidupnya. Dalam konteks ini, pendidikan entrepreneurship di pesantren dipandang sebagai bagian dari ikhtiar mewujudkan kemaslahatan umat melalui penguatan iman, akhlak, dan kesejahteraan sosial.
Ketua Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd., memberikan apresiasi atas lahirnya disertasi ini karena berhasil mengangkat Pesantren Rakyat sebagai objek kajian ilmiah yang memiliki kontribusi strategis bagi pengembangan Manajemen Pendidikan Islam.
Menurut beliau, selama ini perhatian penelitian pendidikan Islam relatif lebih banyak diarahkan kepada lembaga-lembaga pendidikan yang telah mapan, memiliki sumber daya yang kuat, serta memperoleh dukungan kelembagaan yang memadai. Sementara itu, masih banyak lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dari masyarakat akar rumput, melayani kelompok dhuafa dan masyarakat marginal, namun belum banyak menjadi perhatian dalam pengembangan teori maupun kebijakan pendidikan Islam.
Padahal, justru pada ruang-ruang pendidikan masyarakat inilah sering lahir praktik-praktik kepemimpinan, pemberdayaan, dan inovasi sosial yang mampu menjawab persoalan riil umat.
Pesantren Rakyat Al-Amin menjadi salah satu contoh bagaimana keterbatasan sumber daya tidak menjadi penghalang untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan memberdayakan. Melalui kepemimpinan kiai yang visioner dan transformatif, pesantren mampu membuka akses pendidikan bagi masyarakat yang selama ini berada di pinggiran sistem pendidikan, sekaligus membangun kemandirian ekonomi tanpa kehilangan identitas sebagai lembaga dakwah dan pendidikan Islam
Disertasi ini sekaligus membuka ruang baru bagi pengembangan keilmuan Manajemen Pendidikan Islam. Pesantren Rakyat, pendidikan berbasis komunitas, kepemimpinan kiai dalam pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan sosial pesantren, ketahanan ekonomi lembaga pendidikan Islam, filantropi Islam, pemberdayaan masyarakat marginal, serta pembangunan pendidikan berbasis Maqashid al-Syari’ah merupakan bidang-bidang strategis yang masih sangat terbuka untuk dikembangkan melalui penelitian doktoral.
Pengembangan tema-tema tersebut akan memperkaya Body of Knowledge Manajemen Pendidikan Islam, sekaligus memperkuat posisi MPI sebagai disiplin ilmu yang tidak hanya mengembangkan teori pengelolaan lembaga pendidikan, tetapi juga menghasilkan model-model manajemen yang mampu menjawab persoalan nyata pendidikan, kemiskinan, ketimpangan sosial, dan pemberdayaan umat. Dalam perspektif ini, Pesantren Rakyat bukan sekadar objek penelitian, melainkan laboratorium sosial-keagamaan yang menawarkan paradigma baru kepemimpinan pendidikan Islam berbasis keadilan sosial, kemandirian ekonomi, dan kemaslahatan umat.





