MIU Login

Ujian Promosi Doktor Dr. Muhammad A’Inul Haq Ungkap Strategi Determinasi Diri Mahasiswa dalam Menguasai Bahasa Arab

Batu – Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menggelar Ujian Promosi Doktor dengan peserta Dr. Muhammad A’Inul Haq. Dalam ujian tersebut, Muhammad A’Inul Haq mempresentasikan hasil disertasinya yang mengangkat temuan penting di bidang pendidikan bahasa Arab, khususnya terkait strategi mahasiswa dalam mencapai kecakapan berbahasa tingkat tinggi.

Ujian promosi ini dibimbing oleh tim promotor yang terdiri dari Prof. Dr. Faisal Mahmoud Adam Ibrahim, M.A. dan Dr. H. Nurhadi, M.A.. Disertasi yang dipresentasikan menyoroti fenomena menarik di Universitas Kiai Abdullah Faqih, di mana mahasiswa mampu menunjukkan kemampuan luar biasa dalam berpidato dan berdebat menggunakan bahasa Arab, meskipun berada dalam lingkungan dengan fasilitas kebahasaan yang terbatas dan masih kuatnya metode pembelajaran tradisional berbasis hafalan atau talqin.

Dalam penelitiannya, Muhammad A’Inul Haq menemukan bahwa keberhasilan mahasiswa tersebut tidak semata-mata ditopang oleh sistem pembelajaran formal, melainkan oleh strategi determinasi diri atau dorongan kuat yang lahir dari dalam diri mahasiswa itu sendiri. Temuan ini menjadi bukti bahwa motivasi internal memiliki peran sentral dalam membentuk ketangguhan belajar, kemandirian, serta kemampuan mahasiswa untuk terus berkembang di tengah keterbatasan.

Lebih jauh, disertasi ini tidak hanya mengafirmasi Teori Determinasi Diri (Self-Determination Theory) yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan, tetapi juga memberikan kontribusi baru bagi pengembangan teori tersebut. Jika selama ini teori tersebut bertumpu pada tiga pilar utama, yakni otonomi, kompetensi, dan relasi sosial, maka penelitian ini menemukan adanya dimensi keempat yang sangat krusial, yaitu kemampuan evaluasi diri.

Tak kalah menarik, penelitian ini juga menegaskan bahwa motivasi spiritual dan nilai-nilai keagamaan menjadi energi utama dalam proses pembelajaran mahasiswa. Dorongan religius tersebut tidak hanya memperkuat semangat belajar, tetapi juga terbukti mampu menekan rasa cemas, meningkatkan ketahanan mental, dan memacu mahasiswa untuk terus meraih prestasi, bahkan di luar ruang kelas formal.

Temuan ini memberikan perspektif baru bagi pengembangan pembelajaran bahasa Arab di perguruan tinggi, khususnya dalam merancang model pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek metode dan lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran, kemandirian, evaluasi diri, dan motivasi spiritual peserta didik. Dengan demikian, keberhasilan belajar bahasa tidak lagi dipandang semata-mata bergantung pada fasilitas, melainkan juga pada kekuatan internal yang dimiliki mahasiswa.

Melalui ujian promosi doktor ini, Muhammad A’Inul Haq berhasil menunjukkan bahwa pendidikan bahasa Arab memerlukan pendekatan yang lebih holistik—mengintegrasikan aspek akademik, psikologis, dan spiritual—agar mampu melahirkan generasi pembelajar yang tangguh, mandiri, dan berprestasi.

Berita Terkait