Malang – Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menyelenggarakan Ujian Promosi Doktor dengan peserta Dr. Faizal Habibie. Dalam sidang promosi tersebut, ia mempresentasikan disertasi yang mengkaji budaya belajar bahasa Arab di Asrama “Daerah Arab” Pondok Pesantren Sidogiri sebagai model pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan komunikasi santri secara komprehensif.
Disertasi ini dibimbing oleh Prof. Dr. H. Wildana Wargadinata, Lc., M.Ag. sebagai promotor dan Dr. Hj. Mamluatul Hasanah, M.Pd. sebagai ko-promotor. Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pembelajaran bahasa Arab di banyak pesantren salaf masih berorientasi pada penguasaan kaidah bahasa (qawā’id) dan kajian kitab turats. Meskipun mampu membentuk pemahaman gramatikal yang kuat, pendekatan tersebut dinilai belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan komunikasi lisan para santri.

Berbeda dengan pola pembelajaran tersebut, Asrama “Daerah Arab” Pondok Pesantren Sidogiri menerapkan budaya belajar yang menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Lingkungan ini menghadirkan pengalaman belajar yang menempatkan bahasa Arab bukan sekadar sebagai mata pelajaran, tetapi sebagai bagian dari kehidupan santri dalam berinteraksi dan beraktivitas.
Penelitian ini bertujuan menjelaskan proses terbentuknya budaya belajar bahasa Arab di lingkungan pesantren tersebut serta menganalisis kontribusinya terhadap performansi berbahasa santri. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi yang dikembangkan oleh Dell Hymes, sehingga mampu menggambarkan secara mendalam praktik komunikasi yang berlangsung dalam komunitas bahasa di lingkungan pesantren.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya belajar bahasa Arab di Asrama “Daerah Arab” dibangun melalui beberapa unsur utama, yaitu terbentuknya komunitas tutur (speech community), penerapan kewajiban menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari, keberadaan pembimbing bahasa (rijāl al-lughah), penyelenggaraan berbagai kegiatan komunikatif, serta penyediaan input bahasa yang beragam dan berkelanjutan. Melalui proses tersebut, bahasa Arab berkembang menjadi kebiasaan, norma sosial, sekaligus identitas kolektif yang melekat dalam kehidupan santri.

Temuan penelitian memperlihatkan bahwa budaya belajar tersebut memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan performansi berbahasa santri. Dari aspek linguistik, santri menunjukkan peningkatan kelancaran berbicara dan kemampuan menggunakan struktur bahasa Arab secara lebih alami. Dari aspek sosial, tumbuh rasa percaya diri, keberanian berkomunikasi, serta partisipasi aktif dalam berbagai aktivitas akademik maupun nonakademik. Sementara dari aspek kultural, santri semakin mampu menggunakan bahasa Arab sesuai dengan konteks komunikasi serta membangun disiplin dalam menjaga penggunaan bahasa di lingkungan pesantren.
Salah satu kontribusi penting penelitian ini adalah lahirnya Model Budaya Belajar Bahasa Arab Partisipatif–Transformatif–Performantif. Model ini menjelaskan bahwa performansi berbahasa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teori kebahasaan, tetapi juga dibentuk melalui partisipasi aktif seluruh anggota komunitas, pendampingan yang berkelanjutan, praktik komunikasi yang dilakukan secara berulang, serta pengayaan input bahasa yang berlangsung terus-menerus.
Model tersebut menegaskan bahwa lingkungan belajar memiliki peran strategis dalam membentuk kemampuan komunikasi peserta didik. Ketika bahasa digunakan secara konsisten sebagai alat interaksi sehari-hari, proses pemerolehan bahasa berlangsung lebih alami dan efektif. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Arab tidak lagi terbatas pada ruang kelas, melainkan menjadi bagian dari budaya yang hidup di tengah komunitas pembelajar.
Melalui ujian promosi doktor ini, Dr. Faizal Habibie memberikan kontribusi akademik yang penting bagi pengembangan pendidikan bahasa Arab di Indonesia. Disertasinya menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa Arab tidak hanya bergantung pada metode pengajaran, tetapi juga pada budaya belajar yang dibangun secara kolektif. Dengan menghadirkan Model Budaya Belajar Bahasa Arab Partisipatif–Transformatif–Performantif, penelitian ini diharapkan menjadi rujukan dalam pengembangan pembelajaran bahasa Arab yang lebih efektif, komunikatif, dan relevan dengan kebutuhan pendidikan Islam di era modern.







