Malang – Tradisi pembelajaran kitab kuning tetap menjadi salah satu pilar utama dalam sistem pendidikan pesantren di Indonesia. Hal inilah yang menjadi perhatian Muhammad Taufiq, mahasiswa Program Studi Doktor (S3) Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, melalui penelitiannya yang berjudul “Implementasi Kitab Yujibu an Tushahhah di Pondok Pesantren Nurul Huda Situbondo.”
Penelitian tersebut mengkaji bagaimana kitab Yujibu an Tushahhah diterapkan dalam proses pendidikan di Pondok Pesantren Nurul Huda Situbondo sebagai salah satu media pembentukan pemahaman keislaman dan karakter santri. Di tengah perkembangan pendidikan modern, kajian kitab klasik dinilai tetap memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan tradisi intelektual Islam sekaligus membentuk pribadi santri yang berakhlak mulia.

Dalam penelitiannya, Muhammad Taufiq menelaah implementasi pembelajaran kitab mulai dari proses perencanaan, metode penyampaian materi, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, hingga evaluasi pembelajaran. Kajian tersebut juga menyoroti bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam kitab diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari santri melalui berbagai aktivitas pendidikan di lingkungan pesantren.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran kitab Yujibu an Tushahhah tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi keilmuan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter religius. Melalui bimbingan para kiai dan ustaz, santri dibimbing untuk memahami isi kitab secara mendalam sekaligus mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini juga mengungkap bahwa metode pembelajaran yang diterapkan di Pondok Pesantren Nurul Huda Situbondo mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan partisipatif. Tradisi pembacaan kitab, penjelasan makna, diskusi, serta pendampingan langsung dari para pengajar menjadi faktor penting dalam meningkatkan pemahaman santri terhadap materi yang dipelajari.
Lebih jauh, implementasi kitab Yujibu an Tushahhah memberikan kontribusi terhadap penguatan karakter santri, seperti sikap disiplin, tanggung jawab, keikhlasan, serta komitmen dalam menjalankan ajaran Islam. Hal ini menunjukkan bahwa kitab kuning tidak hanya berfungsi sebagai sumber ilmu pengetahuan agama, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan karakter yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Melalui penelitian ini, Muhammad Taufiq berharap hasil kajiannya dapat menjadi referensi bagi pesantren, akademisi, maupun praktisi pendidikan Islam dalam mengembangkan model pembelajaran kitab kuning yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi sekaligus mampu menjawab tantangan pendidikan di era modern. Penelitian ini sekaligus menegaskan bahwa pesantren terus memainkan peran penting dalam mencetak generasi muslim yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas melalui pembelajaran kitab-kitab klasik yang menjadi warisan keilmuan Islam.








