Malang – Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menyelenggarakan Ujian Promosi Doktor. Pada kesempatan tersebut, Dr. Dibi Afriansyah berhasil mempertahankan disertasinya yang mengkaji pengembangan berpikir kritis dalam pembelajaran bahasa Arab melalui pembentukan afektif di lingkungan madrasah.
Disertasi tersebut disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. H. Wildana Wargadinata, Lc., M.Ag. selaku Promotor dan Dr. H. Syuhadak, M.A. selaku Ko-Promotor.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa pengembangan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran bahasa Arab selama ini masih didominasi oleh pendekatan kognitif, sementara aspek afektif yang berperan penting dalam membentuk kemampuan berpikir kritis belum memperoleh perhatian yang memadai. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan menjelaskan pola pembentukan afektif dan kontribusinya terhadap perkembangan berpikir kritis, sekaligus mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi proses tersebut.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia Bengkulu. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam dengan enam siswa dan dua guru bahasa Arab, serta studi dokumentasi. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, dengan validasi melalui triangulasi sumber dan teknik untuk memastikan keabsahan temuan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan berpikir kritis siswa dibangun melalui koherensi dan konsistensi lima pola pembentukan afektif, yaitu reseptif, responsif, valuatif, integratif, dan karakterisasi. Kelima pola tersebut saling berkaitan dan berkembang secara bertahap sehingga membentuk fondasi yang kuat bagi kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran bahasa Arab.
Penelitian juga mengungkap bahwa keberhasilan pembentukan afektif dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain strategi pedagogis guru, penggunaan teks bahasa Arab yang kontekstual, pembelajaran berbasis diskusi dan penalaran, budaya akademik sekolah yang mendukung, serta terjalinnya hubungan pedagogis yang positif antara guru dan peserta didik. Faktor-faktor tersebut menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa berpikir lebih reflektif dan analitis.
Melalui mekanisme tersebut, siswa menunjukkan perkembangan kemampuan dalam memahami makna teks, memberikan alasan berdasarkan kaidah bahasa Arab, menarik inferensi sesuai konteks, menganalisis struktur kalimat secara kritis, serta mengevaluasi penggunaan bahasa Arab berdasarkan argumentasi yang logis. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya meningkatkan kompetensi kebahasaan, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills).
Sebagai kontribusi teoretis, penelitian ini menghasilkan sebuah model konseptual “Perkembangan Berpikir Kritis melalui Koherensi dan Konsistensi Pola Afektif.” Model tersebut memperluas perspektif pembelajaran bahasa Arab dengan menempatkan pembentukan afektif sebagai mekanisme fundamental dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Temuan ini memberikan sudut pandang baru bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan aspek linguistik, tetapi juga oleh pembinaan sikap, nilai, dan karakter peserta didik.
Hasil penelitian diharapkan menjadi referensi bagi guru bahasa Arab, pengembang kurikulum, dan lembaga pendidikan dalam merancang pembelajaran yang mampu mengintegrasikan aspek kognitif dan afektif secara seimbang. Selain memperkaya khazanah keilmuan Pendidikan Bahasa Arab, penelitian ini juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan model pembelajaran yang lebih humanis, reflektif, dan berorientasi pada pembentukan kemampuan berpikir kritis peserta didik di era pendidikan modern.







