Malang – Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menggelar Ujian Promosi Doktor. Pada kesempatan tersebut, Dr. Roviin berhasil mempertahankan disertasinya yang mengkaji pengembangan kurikulum bahasa Arab di madrasah melalui integrasi standar kompetensi internasional.

Dalam sidang promosi tersebut, Dr. Roviin dibimbing oleh Prof. Dr. H. Moh. Ainin, M.Pd. sebagai Promotor dan Dr. H. Syuhadak, M.A. sebagai Co-Promotor.
Penelitian yang dilakukan dilatarbelakangi oleh masih adanya tantangan dalam kurikulum bahasa Arab di madrasah, yang selama ini cenderung didominasi oleh aspek struktural dan gramatikal serta belum memiliki keterkaitan yang sistematis dengan standar kompetensi bahasa internasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis isi kurikulum bahasa Arab berdasarkan Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 183 Tahun 2019 dengan mengacu pada dua standar internasional, yaitu Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) dan American Council on the Teaching of Foreign Languages (ACTFL).
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dengan metode analisis isi (content analysis). Sumber data berupa dokumen kurikulum bahasa Arab Kementerian Agama Republik Indonesia pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Analisis dilakukan dengan memetakan Kompetensi Dasar terhadap indikator kompetensi bahasa berdasarkan standar CEFR dan ACTFL.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi kurikulum bahasa Arab di madrasah telah mengakomodasi pengembangan empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, serta memperlihatkan perkembangan tingkat kemahiran secara bertahap pada setiap jenjang pendidikan. Pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah, kurikulum berada pada level A1–A2 menurut CEFR atau Novice Mid–Intermediate Low berdasarkan ACTFL. Sementara itu, pada jenjang Madrasah Tsanawiyah berada pada level A2–B1 atau Intermediate Low–Intermediate High, sedangkan pada jenjang Madrasah Aliyah mencapai level B1–B2 atau Intermediate Mid–Advanced Low.
Meski demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian. Di antaranya adalah belum adanya hubungan yang sistematis antara Kompetensi Dasar dengan level kompetensi internasional, serta belum seimbangnya pengembangan empat keterampilan berbahasa dalam isi kurikulum. Temuan tersebut menunjukkan perlunya penyempurnaan kurikulum agar lebih terintegrasi dengan standar kompetensi global.

Melalui penelitian ini, Dr. Roviin menawarkan penguatan integrasi standar CEFR dan ACTFL dalam pengembangan kurikulum bahasa Arab berbasis kompetensi komunikatif. Integrasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab di madrasah sehingga lebih adaptif terhadap perkembangan pendidikan global tanpa mengabaikan karakteristik pendidikan Islam di Indonesia.
Disertasi ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi para pengembang kurikulum, akademisi, serta guru bahasa Arab dalam menyusun kurikulum yang lebih komunikatif, berorientasi pada kompetensi, dan selaras dengan standar internasional. Dengan demikian, lulusan madrasah diharapkan memiliki kemampuan berbahasa Arab yang lebih terukur, kompetitif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di tingkat global.
Keberhasilan Dr. Roviin dalam mempertahankan disertasinya menjadi kontribusi akademik yang penting bagi pengembangan kurikulum bahasa Arab di Indonesia, sekaligus memperkuat komitmen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam menghasilkan karya ilmiah yang inovatif dan berdampak bagi kemajuan pendidikan nasional.







