“Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah, yang di atas fitrah itu Allah menciptakan manusia. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S. al-Rum: 30).

Manusia pada dasarnya mempunyai dua kebutuhan, yaitu kebutuhan alamiah dan non alamiah. Kebutuhan alamiah (fi­triah) adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh manusia sebagai manusia. Misalnya keinginan untuk mengetahui dan menyelidi­ki, untuk menjadi terkenal dan menjadi tampan/cantik, kein­ginan untuk berkeluarga dan berketurunan dan sebagainya. Walaupun pemenuhan kebutuhan ini dihadapi dengan sulit dan susah payah, tetapi manusia akan selalu ingin memperolehnya dan akan tetap ada dalam tabiat manusia serta tidak akan mudah digantikan oleh lainnya.

Adapun kebutuhan yang non alamiah, adalah kebiasaan-kebiasaan atau adat istiadat yang dilakukan oleh kebanyakan manusia, tetapi manusia mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari padanya atau menggantikannya dengan yang lain. Misalnya kebutuhan merokok, minum kopi, makanan lezat, dan seterusnya. Kebutuhan-kebutuhan ini memang bisa menjadi kebutuhan alamiah kedua bagi manusia, tetapi manusia masih mampu meninggalkannya melalui berbagai cara, misalnya pendi­dikan, pelatihan, pengendalian diri dan sebagainya. Berbeda halnya dengan kebutuhan alamiah (fitriah), maka manusia tidak akan dapat meninggalkannya dan tidak pula dapat melupakan serta memus­nahkannya walaupun lewat pendidikan, pelatihan dan berbagai cara lainnya.
Agama pada dasarnya merupakan kebutuhan fitri (ala­miah) manusia, sebagaimana firman Allah tersebut di atas, sehingga walaupun ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai oleh manusia begitu maju dan canggih, maka ia tidak akan bisa menggantikan kebutuhan fitriah manusia akan agama.

Manusia modern pernah berusaha menyingkirkan agama dalam kehidupannya. Mereka hanya mengakui kebenaran inderawi dan rasional, yakni kebenaran ilmu pengetahuan yang bersifat empirik. Sementara agama dianggap sebagai suatu mitos, penuh dengan dogma-dogma yang tidak rasional dan non empirik, sehingga ia dianggap sebagai belenggu yang menghambat kema­juan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mengingat kemajuan iptek tidak mengakui kebenaran ajaran agama dan tidak mau berkonsultasi pada petunjuk Allah yang tertuang dan terkandung dalam ajaran agama (wahyu), maka akibatnya pengembangan dan penerapan iptek banyak mencelakakan dan menimbulkan banyak keresahan dunia. Adanya problem lingkun­gan hidup, pencemaran (polusi) lingkungan hidup menimbulkan berbagai malapetaka bagi kehidupan manusia. Menipisnya lapi­san ozon yang menimbulkan panasnya bumi, sehingga tumbuh-tumbuhan tidak bisa tumbuh dengan subur, juga merupakan akibat dari ulah manusia yang tidak mau peduli terhadap petunjuk Ilahi. Timbulnya dekadensi moral di kalangan gener­asi muda dan tua juga merupakan akibat dari ketidakpedulian manusia terhadap petunjuk Ilahi atau nilai-nilai agama dalam mengem­bangkan budaya dan seni.

Allah SWT. telah mengingatkan kepada umat manusia, bahwa: “Telah tampak kerusakan di bumi dan di lautan disebab­kan karena perbuatan (ulah) manusia …” (Q.S. al-Rum: 41).
Setelah manusia modern menyadari akan dampak negatif dari perkembangan iptek yang tidak dilandasi oleh nilai-nilai agama (wahyu), maka pandangan mereka berubah kembali. Iptek ternyata tidak dapat menggantikan peranan agama, dan bahkan mereka menyatakan bahwa abad 21 adalah abad kebangki­tan agama. Sayyed Hossein Nasr dalam bukunya “Islam and the Challenge of the 21 Century” (1993), mengemukakan sejumlah tantangan yang dihadapi oleh dunia Islam pada abad 21, yaitu: (1) krisis lingkungan; (2) tatanan global; (3) post modernism; (4) sekularisasi kehidupan; (5) krisis ilmu pengetahuan dan teknologi; (6) penetrasi nilai-nilai non Islam; (7) citra Islam; (8) sikap terhadap peradaban lain; (9) feminisme; (10) hak asasi manusia; dan (11) tantangan internal. Di lain pihak, Sachiko Murata & William Chittik, dua guru besar di State University of New York Amerika Serikat (dalam The Vision of Islam, 1994), mengemukakan bahwa obat untuk mengatasi berbagai problem masyarakat, seperti kelaparan, penyakit, penindasan, polusi dan berbagai penyakit sosial lainnya, adalah to return to God through religion.

Mengapa harus kembali kepada Tuhan melalui agama, dan tidak kembali saja kepada ideologi-ideologi tertentu, misalnya ideologi kapitalisme yang mendominasi peradaban global, dan yang telah dijadikan tuhan oleh sebagian manusia modern? Kapitalisme mempunyai tiga asumsi dasar, yaitu: (1) kebebasan individu; (2) kepentingan diri (selfishness); dan (3) pasar bebas. Sebagai dampak dari kapitalisme tersebut antara lain melahirkan berbagai masalah yang dihadapi oleh dunia sebagaimana dikemukakan oleh Sayyed Hossein Nasr di atas.

Hidup manusia bagaikan lalu lintas, masing-masing ingin berjalan dengan selamat sekaligus cepat sampai ke tujuan. Namun, karena kepentingan mereka berlain-lainan, maka bila tidak ada peraturan lalu lintas kehidupan, pasti akan terjadi benturan dan tabrakan. Siapa yang mengatur lalu lintas kehidupan itu? Manusiakah? Tidak, karena manusia mempunyai dua kelemahan, yaitu: keterbatasan pengetahuan, dan sifat egoisme atau ingin mendahulukan kepentingan diri sendiri dan kelompoknya. Karena itu, yang seharusnya mengatur lalu lintas kehidupan adalah Dia yang paling mengetahui sekaligus yang tidak mempunyai kepentingan sedikitpun, yaitu Allah SWT. Dialah yang menetapkan peraturan-peraturan tersebut, baik secara umum berupa nilai-nilai maupun secara rinci, khususnya bila rincian petunjuk itu tidak dapat dijangkau oleh penalaran manusia. Peraturan itulah yang kemudian dinamai agama.

Uraian tersebut menggarisbawahi bahwa agama Allah tidak pernah akan lepas dari kebutuhan manusia, karena ia merupa­kan fitrah Allah yang di atas fitrah itulah Allah mencipta­kan manusia (Fithrata Allah al-lati fathara an-nas ‘alaiha). Sampai orang atheis pun pada dasarnya tidak akan bisa me­ninggalkan atau menyingkirkan kebutuhan agama tersebut.
Dalam suatu riwayat diceritakan oleh M. Natsir (almahum) dalam bukunya Kapita Selekta, bahwa :
Ketika Prof. Kohnstam membuka tahun ajaran baru dari Nutseminarium yang ia pimpin di Amsterdam, ia membuka pida­tonya dengan memperingati salah seorang koleganya yang bernama Paul Ehrenfest, guru besar dalam Ilmu Fisika, yang kebetulan baru meninggal dunia dengan cara yang amat menge­jutkan dunia ilmu pengetahuan saat itu.
Paul Ehrenfest amat dicintai oleh teman sejawatnya sebagai sahabat yang setia, dihormati dan disayangi oleh pelajar-pelajar sebagai pemimpin dan bapak dalam ilmu yang ia perdalami. Guru besar tersebut telah meninggalkan dunia yang fana ini masuk ke alam baka dengan cara membunuh diri, setelah ia membunuh anaknya sendiri lebih dahulu. Siapa yang tidak heran, terkejut dan sedih mendengar peristiwa itu?
Paul Ehrenfest adalah seorang terpelajar, seorang intelektual kenamaan, ia berasal dari keluarga yang baik-baik, ia telah mendapat pelajaran dan didikan yang sebaik-baiknya di tempat kelahirannya. Otaknya amat tajam, mampu menukik dan menggali rahasia ilmu pengetahuan yang masih tersembunyi dan memiliki karya-karya besar yang berhasil dihidangkan ke dunia luar.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak pernah terdengar ia melakukan sesuatu pekerjaan yang tercela. Pergaulannya selalu dengan orang-orang baik, akhlaknya baik, penyayang dan disayangi. Tetapi mengapa ia tega melakukan perbuatan yang lebih buas dan ganas sifatnya dari perbuatan seorang penjahat. Ia membunuh anaknya sendiri dan setelah itu membu­nuh dirinya pula. Tentu saja ada suatu rahasia kehidupannya yang tidak diketahui oleh orang luar.

Dari suatu surat yang ditinggalkannya untuk teman sejawatnya yang paling akrab, Prof. Kohnstam namanya, tern­yata bahwa perbuatan yang menewaskan dua jiwa itu bukan suatu pekerjaan yang terburu nafsu, melainkan suatu perbua­tan yang telah dipikir lama, berasal dari suatu perjuangan rohani yang telah mendalam yang tidak dapat diselesaikan dengan lautan ilmu pengetahuan yang ada padanya.
Dari suratnya itu ternyata menunjukkan bahwa guru besar tersebut telah kehilangan ideal, kehilangan tujuan hidup. Pendidikan yang diterimanya sejak kecil, pergaulannya dengan orang di sekelilingnya, telah memberi bekas kepada jiwanya bahwa tak ada yang lain, pokok dan tujuan hidup yang sebenarnya, selain dari ilmu pengetahuan. Dikorbankannya segala tenaganya, ditumpahkannya seluruh cita-citanya kepada ilmu pengetahuan, sampai ia menginjak tingkatan yang tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan. “Tak ada yang lebih baik dari ilmu pengetahuan, tak ada yang tersembunyi di balik ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan adalah berada di atas segala-galanya”. Itulah semboyan hidup dari Paul Ehrenfest.

Namun demikian, lambat laun rupanya masih ada hajat rohani yang tidak dapat dipuaskan dengan ilmu pengetahuan itu. Semakin lama ia memperdalam ilmu, semakin hilang rasan­ya tempat berpijak. Apa yang kemarin masih benar, sekarang sudah tidak betul lagi. Apa yang betul sekarang, besok sudah salah pula. Demikianlah ilmu pengetahuan.
Rohaninya haus dan dahaga kepada suatu tempat berpe­gang yang teguh, satu barang yang mutlak, tempat berlindung bila ditimpa gelombang kehidupan, tempat bernaung yang teduh bila datang pancaroba rohani. Semuanya ini ternyata tidak dapat diperolehnya melalui ilmu pengetahuan.
Ehrenfest mempunyai seorang anak yang amat dicintain­ya. Ia berharap bahwa anak inilah yang akan meneruskan pekerjaannya, menyambung tenaganya yang tentu pada suatu masa akan habis juga. Dicobanya mendidik anaknya itu dengan sesempurna-sempurna didikan. Akan tetapi kenyataannya anakn­ya itu tidak pula sempurna otaknya. Sebagai seorang profesor sudah tak syak lagi, ia tidak akan membiarkan keadaan anakn­ya begitu saja. Uang cukup untuk membayar dokter, kepintaran dokter tidak kurang pula di tempat kediamannya. Kalau tidak yang dekat, yang jauh pun akan didatanginya.
Namun demikian semuanya itu rupanya tidak berhasil. Di saat yang demikian itulah rupanya timbul rasa putus asa yang menghancurkan iman. Iri hatinya melihat orang di sekeli­lingnya yang senantiasa aman dan tenteram sanubarinya. Dapat ditenteramkan dan diamankan walaupun apa musibah dan malape­taka yang menimpa. Ingin hatinya hendak seperti orang itu, orang yang mempunyai tempat bergantung, mempunyai satu keyakinan dan pegangan dalam hidupnya, yaitu keyakinan atau kepercayaan agama. Bagi Ehrenfest, hal itu tidak dapat dicapainya. Rohnya berkehendak penyembahan kepada Tuhan, tetapi tidak diperdapatnya. Ingin dan rindu hendak mempunyai agama, tetapi tidak diperolehnya jalan. Akhirnya ia membunuh anaknya, dan sesudah itu ia membunuh dirinya sendiri.

Itulah gambaran batin seseorang yang pada lahirnya atheis, tetapi pada hakekatnya amat rindu untuk mempunyai Tuhan, untuk beragama, tetapi tidak diperdapatnya. Atas dasar peristiwa itu, nyatalah bahwa agama merupa­kan kebutuhan fitriah (alamiah) bagi setiap manusia, yang tidak bisa digantikan dengan ilmu pengetahuan atau lainnya. Agama akan menciptakan rasa aman dan sejahtera bagi peme­luknya.  Agama juga mempunyai fungsi dan peranan yang amat penting bagi kehidupan manusia. Fungsi dan peranan agama itu ibarat tali kekang, yaitu tali kekang dari pada pengumbaran akal pikiran yang liar, tali kekang dari pada gejolak hawa nafsu yang angkara murka, dan tali kekang dari pada ucapan dan perilaku yang keji dan biadab. Agama dapat menuntun perjala­nan hidup manusia agar tetap berada di atas jalan lurus (shiratal mustaqim). Putusnya tali kekang itu pada diri manusia, tidak hanya akan merugikan dan mencelakakan dirinya saja, tetapi orang atau pihak lain, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negara akan terkena akibatnya.

Oleh karena itu semua pihak sama-sama berkepentingan akan agama (tali kekang). Tali kekang itu tidak cukup hanya sekedar dimiliki, tetapi ia harus dijaga dan dipeli­hara, agar semakin kuat dan kokoh. Bagaimana cara menjaga dan memelihara agama itu? Dalam hal ini seseorang harus mengimani dan mempelajarinya secara mendalam untuk memperkokoh keima­nannya, mengamalkan ajaran agama dengan istiqamah, saling berwasiat dalam mentaati ajaran agama, serta sabar dalam beragama.

Categories: Artikel Dosen