Orientasi Maba Pascasarjana: Memimpin Diri Menjadi Pribadi yang Berkualitas

Orientasi Maba Pascasarjana: Memimpin Diri Menjadi Pribadi yang Berkualitas
Orientasi Maba Pascasarjana: Memimpin Diri Menjadi Pribadi yang Berkualitas
OPENING: Tengah Prof. Imam Suprayogo Sedang Memberi Kuliah Umum Kepada Maba Program Pasca Sarjana Semester Genap Tahun Akademik 2014/2015 di Gedung C Lt-4 Kampus Dua UIN Maliki

OPENING: Tengah Prof. Imam Suprayogo Sedang Memberi Kuliah Umum Kepada Maba Program Pasca Sarjana Semester Genap Tahun Akademik 2014/2015 di Gedung C Lt-4 Kampus Dua UIN Maliki

GEMA-Di semester genap tahun akademik 2014/2015, UIN Maliki menerima 337 mahasiswa baru (maba) program pasca sarjana.

Yaitu tingkat strata dua (S2) Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI) berjumlah 48 mahasiswa, Prodi Al-Ahwal Al-Syakhsiyah (AS) 45 mahasiswa, Prodi Ekonomi Syariah 20 mahasiswa, Prodi Pendidkan Agama Islam (PAI) 74 mahasiswa, Prodi Manajemen Pendidikan Islam 28 mahasiswa, Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) 70 mahasiswa, dan Prodi Studi Agama Islam 2 mahasiswa. Sedangkan tingkat strata tiga (S3) Prodi Manajemen Pendidikan Islam 17 mahasiswa, Prodi Pendidikan Agama Islam Berbasis Studi Interdisipliner 27 mahasiswa, dan Pendidikan Bahasa Arab 6 mahasiswa. Dari keseluruhan maba tersebut, ada sekitar 25 mahasiswa asing yang masing-masing berasal dari Libya, Sudan, dan Singapura.

Satu hari penuh seluruh maba tersebut mengikuti kegiatan orientasi studi program pasca sarjana di Gedung C Lt-4 kampus dua UIN Maliki, senin (23/2). Pada sesi kedua kegiatan tersebut, maba berkesempatan mendapat kuliah umum dari Prof. Imam Suprayogo. Didampingi oleh Direktur Pasca Sarjana Prof. Muhaimin, Prof. Imam menyampaikan topik diskusi terkait tantangan-tantangan yang akan dihadapi oleh mahasiswa.

“Sebenarnya, tantangan utama bagi mahasiswa sekarang hanya perlu menyiapkan biaya uang semester saja, dan setelah itu mahasiswa bisa lulus,” ungkap Prof. Imam dengan nada humor di awal kuliahnya. Guru besar kelahiran Trenggalek tersebut mengungkapkan bahwa perlu ada perbaikan disemua aspek, terutama dalam aspek kualitas keilmuan mahasiswa dan dosen. karena lulusan S1, S2, S3, dan terlebih yang telah bergelar Guru Besar harus benar-benar menguasai setiap bidang keilmuan yang dipelajari. “Fenomena sekarang, banyak yang belajar kepada orang yang tidak mengerti dan banyak orang yang tidak mengerti mengajar. Semisal dosen peternakan tetapi tidak mempunyai peternakan, ” urainya lebih lanjut.

Sekarang, lanjut Prof. Imam, pendidikan semakin kacau. Banyak pendidikan ditawar-tawarkan, sehingga berakibat buruknya sikap pelajar didalam menuntut ilmu. Hal ini sangat berbeda dengan pendidikan pada era 75-an. Karena memang, seorang mahasiswa atau pelajar dituntut harus benar-benar menguasai bidang keilmuan  yang diambil. Sehingga ketika lulus, mereka lulus dengan ijazah serta gelar yang sesuai dengan kualitas keilmuannya. “Tentunya ijazah serta gelar yang telah didapat tidak membebaninya dikemudian hari,” tambahnya.

Maju tidaknya kampus ini, masih uraian Prof. Imam, kembali kepada kita. Apakah menghendaki sebuah kampus yang berkualitas atau hanya mengutamakan lulusan dengan setumpuk ijazah dan gelar semata. Menuju kampus yang berkualitas itu sebenarnya bisa diwujudkan dengan mudah karena banyak hal yang mendukung ke arah itu. Seperti telah tersedianya sarana prasarana gedung perkulihan, perpustakaan, dan kemudahan mengakses informasi.

Guru Besar yang telah memipin UIN Maliki selama empat dekade tersebut juga mengutarakan bahwa tantangan sebenarnya bagi mahasiswa adalah mampu atau tidak memimpin diri sendiri. Disadari atau tidak, bahwa ketidak mampuan dalam memimpin diri sendiri juga satu sebab kemundurun umat Islam. Harapan mewujudkan kampus yang berkualitas itu diawali dengan konsistensi dalam memimpin diri senidiri. Bagaimanapun perkumpulan ini adalah untuk berpikir tentang Islam, tentang umat, dan yang lainnya. “Ketika kita benar-benar bisa mengelola kampus ini dengan benar, maka berbagai problem umat tersebut akan terselesaikan,” tuturnya. (Ajay)