Mengukur Partisipasi Umat Islam dalam Mengelola Lembaga Pendidikan Islam

Mengukur Partisipasi Umat Islam dalam Mengelola Lembaga Pendidikan Islam

Oleh: Prof. Dr. H. Baharuddin, M.Pd.I

Direktur Pascasarjana UIN Maliki Malang

 

Tugas penting dalam mengelola lembaga pendidikan Islam sebenarnya terletak kepada mewujudkan tatanan masyarakat berperadaban (madaniyah). Tugas itu tidak mudah. Namun meskipun peta persaingan di antara lembaga pendidikan lainnya begitu tajam. Perlu langkah taktis yang efektif dan efisien dalam mewujudkan tugas mulia tersebut.

Teinspirasi dari QS. Ali Imron: 110 yang menegaskan kuntum khoiru ummatin ukrijat linnas ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil mungkar (Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar). Berlandaskan ayat tersebut, terbaca bahwa umat Islam merupakan umat yang terbaik di antara umat yang lain dikarenkan selalu mengajak kepada kebaikan dan mencegah perbuatan yang mungkar. Pertanyaannya, bagaimana lembaga pendidikan Islam mampu mewujudkan jargon kuntum khoiru ummatin sekaligus mewujudkan tatanan masyarakat berperadaban (madaniyah) di era modern saat ini?

Persoalan mendasar yang secara makro belum dilakukan oleh umat Islam dalam mengelola lembaga pendidikan Islam adalah belum adanya gerakan manajerial yang masif sekaligus berdampak global. Ali bin Abi Thalib sudah sedari awal menegaskan bahwa kebathilan yang diorganisir dengan masif dapat mengalahkan kebaikan yang amburadul (alhaqqu bilaa nizhomin yaghlibuhu binizhomin. Disinilah mengapa jargon kuntum khoiru linnas masih jauh aktualisasi yang memuaskan. Hal ini dikarenakan masih rapuhnya sistem manajemen yang dibangun dalam lembaga pendidikan Islam sebagai salah satu motor penggerak kuntum khoiru ummatin dalam menjawab tantangan dunia pendidikan saat ini.

Salah satu aspek manajerial yang harus senantiasa diperkuat setiap saat dalam mengelola lembaga pendidikan Islam adalah partisipasi umat Islam. Sektor harus menjadi salah satu skala prioritas dalam menghasilkan lembaga pendidikan Islam yang mampu menjadi poros peradaban Islam. Karakteristik umat Islam sebenarnya memiliki modal agama, sosial dan kultural yang luar biasa dalam rangka mengembangkan lembaga pendidikan Islam menjadi lebih baik.

Ditinjau dari aspek modal agama, adanya spirit ruhul jihad umat Islam hari ini dituntut diperluas tidak hanya dalam hal ritual namun juga perjuangan mengembangkan pendidikan Islam. Bahkan sesungguhnya ruhul jihad ini menjadi pembakar semangat umat Islam dalam mewujudkan kuntum khoiru ummatin dalam hal pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Oleh karena itu, perlu dipikirkan agar spirit ruhul jihad ini menjadi pembakar semangat umat Islam dalam kontribusinya membesarkan lembaga pendidikan Islam agar semakin kompetitif.

Dilihat dari aspek modal sosial, jaringan/networking umat Islam juga menyimpan potensi yang luar biasa. Berbagai profesi yang diemban umat Islam ini, kalau dikelola dengan baik, akan memiliki faedah yang luar biasa bagi kemajuan lembaga pendidikan Islam. Misalnya saja, umat Islam yang berprofesi insinyur dan telematika, diharapkan dari keilmuannya tersebut dapat ditransfer ke dalam kurikulum lembaga pendidikan Islam sebagai rangkaian mewujudkan sistem pendidikan Islam yang terintegrasi dengan teknologi informasi dan komunikasi. Pada contoh yang lain, umat Islam yang berprofesi sebagai dokter, dapat memberikan sumbangsihnya dalam membangun sistem pendidikan kedokteran modern yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam.

Dalam aspek modal kultural, karakter masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa gotong royong, bermental sukarela perlu dioptimalkan dalam menguatkan kelembagaan pendidikan Islam. Keterlibatan umat Islam dalam mengelola lembaga pendidikan Islam, meskipun sudah ada, namun secara makro masih belum menggambarkan kekuatan Islam yang sesungguhnya. Tugas berat para pengelola lembaga pendidikan Islam saat ini adalah menggerakkan partispasi umat Islam secara kuantitatif maupun kualitatif. Dalam koridor partisipasi kuantitatif, para pengelola lembaga pendidikan Islam berupaya agar frekuensi keikutsertaan umat Islam semakin terasa dan menggejala dimana-mana. Sedangkan dalam koridor partisipasi kualitatif merujuk kepada tingkat dan derajat kontribusi yang diberikan umat Islam kepada pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Keduanya merupakan dua unsur paling fundamental dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Sebab tanpa keduanya, keberlanjutan lembaga pendidikan Islam menjadi tidak menentu di masa depan. Diharapkan dengan menggerakkan partisipasi dan kontribusi umat Islam dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam, maka jargon kuntum khoiru ummatin menjadi nyata dan terealisasikan.