Dimuat di Jurnal Nasional edisi 18 Juli 2011

AKSI kekerasan, demo anarkistis, tawuran, KDRT hingga bullying yang terjadi di sekolah merupakan wujud-wujud kekerasan. Maraknya aksi kekerasan membuat miris kita. Aksi ini, anehnya, dilakukan oleh orang yang mengaku beragama. Padahal, ajaran Islam sangat benci segala bentuk kekerasan. Nabi Muhammad SAW sendiri diutus dalam upaya menyempurnakan akhlak manusia. Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.

Kedudukan akhlak merupakan “buah” dari pohon Islam: berakarkan akidah dan berdaun syariah. Segala aktivitas manusia tidak terlepas dari sikap yang melahirkan perbuatan dan tingkah laku. Mungkin kata dalam Bahasa Indonesia yang paling mendekati makna akhlak adalah budi pekerti.

Akhlak Terpuji

Akhlak terpuji dicontohkan Nabi. Dalam Al Quran disebutkan bahwa Nabi Muhammad memiliki akhlak yang agung (QS Al-Qalam: 4). Akhlak terpuji dicontohkan Nabi seperti membantu sesama manusia dalam kebaikan, kebajikan, memuliakan tamu, menghormati orang lain, saling menghindari permusuhan/pertengkaran, menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, bermusyawarah dalam segala urusan untuk kepentingan bersama.

Sayangnya, perbuatan dan tingkah laku terpuji di atas jarang disosialisasikan/dipraktikkan secara nyata, merata, dan berkelanjutan oleh para pendakwah atau pemuka agama. Kekuatan dakwah di negara kita masih seputar dakwah bil lisan (dakwah dengan kata-kata) yang acap kali disiarkan sejumlah media cetak dan elektronik.

Memang, tidak salah berdakwah seperti itu. Hanya saja, dakwah bil lisan perlu diikuti atau bersamaan dakwah bil hal (dakwah dengan contoh perbuatan yang terpuji). Kata dan perbuatan adalah dua hal yang berbeda. Sering kali ada ungkapan: tidak satunya kata dengan perbuatan. Bahkan Proklamator Bung Karno mengingatkan pentingnya menyatukan kata dan perbuatan.

Ungkapan ini amat pas dan tepat dialamatkan kepada kebanyakan anggota masyarakat kita, termasuk para elitenya. Manusia dapat saja mahir menjelaskan ajaran agama dengan kata-kata, tetapi belum tentu mahir melakukan perilaku yang terpuji. Justru orang yang tidak menyatukan kata dan perbuatan termasuk melecehkan ajaran agama. Allah sangat murka dengan orang-orang tipe seperti ini (Al Quran Surat Saff: 61: 2-3). Tentu, pesan kedamaian yang dikandung akhlak terpuji bila benar-benar dipraktikkan secara nyata akan mampu menciptakan iklim kerukunan umat beragama yang hakiki.

Akhlak Tercela

Akhlak tercela sangat dibenci dan tentu bukan tingkah laku yang diajarkan agama (Islam). Contoh akhlak tercela yang sering mengemuka di negara ini adalah pemaksaan kehendak sekelompok masyarakat dalam bentuk tekanan bahkan kekerasan. Pinjam kata-kata Buya Syafii Maarif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, mereka yang gemar melakukan kekerasan atas dasar agama seolah merasa benar di jalan yang sesat. Sumber kekerasan berasal dari sifatghadhab atau mudah marah–kondisi emosi seseorang yang tak terkendali dan tak dapat ditahan sehingga memunculkan perilaku tidak menyenangkan terhadap orang lain.

Perbuatan tercela semacam ini dipastikan berasal dari orang yang bermasalah dalam keimanan. Akhlak buruk merupakan manifestasi dari sifat-sifat syaitan dan iblis yang tugas utama dan satu-satunya adalah menjerumuskan manusia di dunia ini agar berperilaku menyimpang, tidak sejalan koridor ajaran agama.

Dalam Al Quran diungkap bahwa Iblis adalah makhluk sombong. Tatkala disuruh Allah bersujud pada Adam, ia menolak dan mengatakan “aku lebih baik daripada manusia karena aku berasal dari api, sedangkan manusia terbuat dari tanah”. Iblis pun pantang bersujud. Allah murka dan menghukumnya Iblis keluar dari surga. Iblis minta kepada Allah diberi kesempatan untuk menjerumuskan manusia. Peristiwa ini diabadikan Allah dalam Al Baqarah dan surat lain pada Al Quran.

Peran Tokoh Agama

Akhlak atau budi pekerti memainkan peran penting dalam kehidupan antarumat beragama. Para ustad, kiai, pendeta, pastor, biksu atau penggiat dakwah lainnya paham makna penting posisi akhlak dalam hidup dan kehidupan. Dalam Islam contoh akhlak mulia dapat dipelajari dari sejarah kehidupan Rasulullah. Dalam sejarah Islam diceritakan betapa Nabi sangat mengasihi sesama manusia, meski mereka beda keyakinan agama.

Alkisah, suatu waktu Nabi secara rutin memberi makan dengan cara menyuapi seorang tua tunanetra beragama Yahudi. Orang ini tidak menyadari bahwa yang menyuapi dirinya adalah seorang Nabi yang selalu diejek, dicaci maki, dan dibencinya. Bahkan saat Nabi menyuapinya, sang tunanetra ini selalu bercerita ketidaksukaannya terhadap Muhammad. Tetapi Nabi dengan sabar mendengar celotehan yang menghina itu. Nabi tidak ambil pusing. Beliau tetap memberinya makan, menyuapi dengan penuh kesabaran. Hingga akhirnya Nabi wafat.

Beberapa hari setelah itu tidak ada yang menyuapinya. Lalu Sahabat Abu Bakar mengganti tugas Nabi menyuapi orang tua tersebut. Serta-merta orang tua tunanetra ini kaget karena merasa “sentuhan” suapannya berbeda. Kemudian terjadi dialog kurang lebih seperti ini, “Siapa engkau, hai orang yang menyuapiku?” “Aku Abu Bakar,” jawab Sahabat. Lantas orang tua tunanetra itu berkata, “Selama ini aku disuapi oleh orang yang sangat lembut dan sabar.”

Abu Bakar berkata bahwa orang yang menyuapinya selama ini sebenarnya adalah Muhammad Rasullullah dan kini telah wafat. Sontak sang tua tunanetra itu kaget bukan kepalang, Rupanya orang yang sering dihujat dan dihinanya adalah Nabi Muhammad itu sendiri. Ia sedih dan sangat menyesal. Tidak menyangka orang yang menyuapinya dengan lembut adalah Muhammad Rasulullah yang telah lama dibencinya. Ia terperangah karena curhat dan caci makinya terhadap Muhammad malah didengar langsung sang Nabi yang tanpa sedikit pun menunjukkan ketersinggungan, apalagi marah. Bahkan Nabi dengan sabar dan lembut tetap menyuapinya.

Inilah satu kisah dari sekian banyak kisah akhlak Rasul. Belajar dari hal ini, kiranya para pendakwah/tokoh agama perlu mengedepankan budi pekerti/akhlak mulia dalam tindak laku kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama hendaklah memperkuat sisi dakwah bil hal, memberi contoh konkret tentang indahnya perdamaian, saling mengasihi, dan bertoleransi, tanpa kekerasan. Musyawarah merupakan cara dalam menyelesaikan konflik.

Mahasiswa S3 Pascasarjana Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Dosen Luar Biasa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Malang
Categories: Artikel Dosen