Konflik sebagai Pemicu Prestasi Lembaga Pendidikan Islam

Konflik sebagai Pemicu Prestasi Lembaga Pendidikan Islam

Oleh: Prof. Dr. H. Baharuddin, M.Pd.I

Direktur Pascasarjana UIN Maliki Malang

 

Dinamika persaingan dalam mengelola lembaga pendidikan Islam memang tidak bisa dipungkiri akan terjadi setiap saat. Situasi tersebut pada satu sisi akan melahirkan persaingan sehat, manakala dikelola dengan bijak dan dimotivasi untuk membesarkan lembaga pendidikan. Namun apabila persaingan tersebut dilatarbelakangi oleh motif kekuasaan maupun uang, justru akan melemahkan dan bahkan lembaga pendidikan Islam. Lalu bagaimana menyikapinya?

Dalam sebuah hadis ditegaskan ikhtilafu ummati rahmatun yang bermakna bahwa konflik dalam persoalan umat nabi Muhammad seperti dalam mengelola lembaga pendidikan Islam adalah rahmat. Konflik akan menjadi rahmat manakala kelompok yang bergesekan, secara ikhlas untuk merangkul satu sama lain. Dengan kata lain, saling mengakui konsep pengembangan lembaga masing-masing.

Setidaknya ada dua faktor mendasar yang dapat dijadikan topik dalam merangkul setiap komponen yang berkonflik dalam lembaga pendidikan Islam. Dua aspek tersebut adalah mengenai makna hak dan ruang bagi setiap pengelola lembaga pendidikan Islam.

Setiap pengelola lembaga pendidikan Islam memiliki hak yang sama dalam membesarkan lembaga pendidikan Islam. Pola pikir seperti itu memang sah dan tidak salah. Masing-masing termotivasi karena adanya idealisme dan meningkatkan kesejahteraan masing-masing. Di sisi lain, mengelola lembaga pendidikan Islam juga menjadi ruang dalam mengaktualisasi kompetensi diri ara personalianya. Lembaga pendidikan Islam dianggap sebagai wadah dalam menerjemahkan ruhul jihad dan mengembangkan kompetensi diri agar dari hari ke hari semakin profesional dan lebih baik. Namun, satu hal yang harus diantisipasi dalam pemaknaan pengelolaan lembaga pendidikan Islam, yakni terlalu terobsesi pada kekuasaan maupun terbuai dengan uang yang mengalir dalam lembaga tersebut.

Disinilah dibutuhkan sikap asertif dari pengelola lembaga pendidikan Islamdalam mengubah mindset konflik menjadi sesuatu hal yang menguntungkan bagi perkembangan dan kemajuan lembaga pendidikan Islam .Makna sikap asertif ialah adanya sikap jujur, berterus terang yang disampaikan dengan sopan sehingga membuat pihak yag berkonflik tidak merasa tersinggung maupun terpojokkan. Mencari titik temu para pihak yang berkonflik dengan berperilaku asertif merupakan sebuah kemajuan dalam menyikapi dan memandang konflik sebagai energi positif kelembagaan untuk maju.

Sebenarnya yang menjadikan akar utama dalam terbentuknya konflik yang berlarut-larut dalam lembaga pendidikan Islam ialah faktor kesenjangan, baik dalam aspek kesejahteraan, akses kekuasaan maupun perlakuan. Kesenjangan di antara pimpinan dan anggota dapat menjadi bahaya laten manakala tidak ada upaya akomodasi dan rekonsiliasi baik dari arus puncak pimpinan (top down) hingga akar rumpun (bottom up).

Faktor kesenjangan ini seringkali berulang terus menerus menjadi momok yang menakutkan karena buruknya cara berkomunikasi di antara para pengelola lembaga pendidikan Islam. Akibatnya, kualitas dan layanan lembaga pendidikan Islam menjadi kurang optimal.

Mulai membuka diri dalam pikiran yang terbuka dan hati yang jernih menjadi senjata yang ampuh dalam memahami konflik bukan lagi sebagai sarana dalam memperebutkan hak dan kepentingan. Melakukan secara intensif komunikasi yang mendudukan konflik sebagai sarana merangsang prestasi dan aktualisasi harus menjadi haluan dalam melepaskan diri dari jeratan kehancuran. Konflik yang diarahkan untuk mendorong prestasi diimplementasikan kepada pembagian hak dan ruang secara kolaboratif di antara stakeholders pengelola lembaga pendidikan Islam. Dengan berkolaboratif dalam mengelola lembaga pendidikan Islam akan tercipta rasa memiliki dan merawat lembaga tersebut sebagai sebuah aset dan nilai ibadah yang tidak ternilai harganya.

Di samping adanya kolaborasi, juga perlu dibangun sistem kompetisi yang sehat dan kompromi yang proposrsional di semua lini manajemen lembaga pendidikan Islam. Hal ini untuk menjaga keutuhan dan keserasian lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian, lembaga pendidikan Islam tidak hanya mampu bertahan, namun juga berprestasi secara maksimal dalam dunia pendidikan global.